Hallo Slanker!
Sebelum bercerita perkenalkan saya Rizky Jano Ramadhan , dari Politeknik Negeri Bandung , Jurusan Teknik Konversi Energi , Prodi D-III Teknik Konversi Energi , saya ingin sedikit bercerita bagaimana saya bisa sampai menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Bandung ini.
Kembali ke masa saya SMA , yang sama seperti anak SMA lainnya (atau mungkin hanya saya). kesibukan saya sebagai pelajar SMA adalah bermain , status saya sebagai pelajar hanyalah sebuah hobi mengisi waktu luang , yang sayangnya saya tidak punya cukup waktu luang. Saya yang saat itu belum memikirkan ingin masuk universitas apa dan jurusan apa , terseret arus masa SMA , bersama teman teman hanya bercanda , nongkrong , dikejar guru karena celana ketat juga rambut gondrong.
Begitu lucunya saat dipikirkan sekarang , karena apa yang kita lakukan pada masa itu sungguh kekanak-kanak , motto "Peraturan ada untuk dilanggar" sangat diaplikasikan di dunia sekolah. Tak terasa , yang awalnya seorang siswa baru akhirnya menjadi seorang senior yang menghadapi realita , mau lanjut kuliah dimana.
Tipe Pelajar Menghadapi Ujian Nasional
Ada beberapa tipe pelajar dalam menghadapi Ujian Nasional , ada yg sibuk gila-gilaan belajar , ada yang gila-gilaan mencari contekan , dan ada yang gila-gilaan santai , dan saya termasuk pada tipe terakhir. Kebodohan saya adalah , masih sempatnya bermain seharian pada tepat H-1 UN. Singkat cerita , Ujian Nasional pun terlewati. Saatnya mencari universitas apa yang ingin kita masuki , melanjutkan pendidikan , mulai menata masa depan , dan memikirkan kita mau jadi apa. Saat itu saya ingin sekali masuk universitas yang memiliki jurusan bisnis atau jurusan yang bersebrangan dengan jurusan saat saya di SMA , yaitu jurusan IPA , karena keterampilan saya pada bidang eksak hanya sekedar tepat KKM.
Saya yang saat itu direkomendasikan (lebih tepatnya didoktrin) oleh orang tua untuk masuk Polban dari kelas satu SMA , sedikit berpikir dua kali untuk mencoba masuk , mereka mengatakan jikalau kita bisa kuliah di Polban , akan mudah mendapatkan kerja , saya yang waktu itu menyutujuinnya hanya sekedar tidak ingin merasa kuping panas mendengarkan penjelasan orang tua , wajar saja , orang tua ingin agar kita bisa hidup lebih baik dari mereka, tapi pada saat itu, saya masih merasa arogan, merasa bahwa saya sendiri dapat mengalahkan dunia, tanpa adanya bantuan dari siapa-siapa.
Saya menolak ingin masuk Politeknik , saya ingin masuk Universitas , saya ingin mendapatkan pendidikan S-1.
Pada saatnya datang pembukaan Universitas , ada begitu banyak perguruan tinggi yang membuka jalur masuk ujian mandiri baik itu swasta maupun negeri. Saat waktu SBMPTN dibuka, saya tidak mengikutinya, karena saya optimis akan hanya ditolak, membuat luka hati orang tua tentu diri saya sendiri, saat ditanya orang tua mengapa tidak mengikutinya , saya memberi alasan tersebut.
Ternyata , itu bumerang untuk diri saya sendiri, orang tua tidak mengizinkan dan membiayai saya jika saya masuk universita swasta , yang memang saat itu ekonomi keluarga sedang tidak stabil, jika memang ingin masuk universitas swasta, saya harus menganggur selama satu tahun , saya sangat tidak menginginkan itu. Bagaimanapun itu , menunggu satu tahun itu sangat membosankan.
Akhirnya datang lagi rekomendasi untuk mengikuti SMB Polban , bersama dengan rekan-rekan saya sang pejuang gagal SBMPTN , saya mengikutinya , hanya untuk menghabiskan penasaran orang tua. De Javu pun terjadi , saya bermain seharian H-1 ujian Saya hanya belajar fokus pada pilihan saya , saya cenderung cuek dengan pilihan yang lain. Dan saya hanya memilih satu jurusan yang saya ingin , tiga sisanya dipilihkan oleh orang tua , dan saya tidak tahu apa yang dipilih oleh orang tua saya. Saat ujian dilaksanakan pun, saya hanya mengerjakan yang saya bisa, dengan bebeberapa yang asal isi
Selang waktu setelah ujian dilaksanakan, saya kembali berleha-leha dengan bersenang-senang bersama teman teman saya, karena kita berpikir, setelah kuliah nanti, jadwal kita akan sangat berbeda , hargai jika ada waktu bersama. Hari untuk hasil seleksi pun tiba. Sama seperti tegangnya dengan pengumuman nilai UN , saya merasakan ketegangan , memang cukup aneh , saya yang tidak menginginkan masuk Politeknik , sama tegangnya dengan orang tua saya , mungkin karena saat itu , jikalau saya tidak diterima , saya akan menganggur selama setahun.
Dengan rasa pesimis karena tidak belajar, dan juga teman teman saya menyampaikan kabar mereka tidak diterima, saya semakin pesimis. Pada saat melihat pengumuman hasil akhir , secara mengejutkan saya diterima , dan saya memberi tahu orang tua saya, dan melihat wajah orang tua yang terlihat sangat bahagia , yang pada awalnya saya sekedar senang karena diterima , menjadi bahagia , melihat kedua wajah orang tua saya. Untuk pertama kalinya , saya melakukan hal yang dapat membanggakan orang tua saya. Dan pertanyaan yang memang penting datang "Diterima jurusan apa ?". Terlalu larut pada kegembiraan , saya lupa mengecek , dan secara tidak terduga , saya diterima yang benar benar saya tidak tahu apa maksud dari jurusan tersebut "Teknik Konversi Energi". Pilihan yang dipilih oleh ayah saya. Saya menanyakan mengapa ayah saya memilih pilihan tersebut , ayah saya ternyata mengetahui jikalau saya mempunyai potensi disitu.
Pada akhirnya , saya mengambil kuliah di Politeknik Negri Bandung , berkat doa orang tua dan seizin Allah SWT. , Alhamdulillah saya dapat berkuliah di Politeknik Negeri Bandung ini
Pesan saya , jangan mengulangi kebodohan saya , yang tidak belajar untuk UN dan SMB Polban. Selalu minta doa dari orang tua untuk diberi jalan terbaik. Jangan lupa juga selalu berkonsultasi apa keinginanmu dan juga apa potensimu , terkadang apa yang kita mau belum tentu menjadi yang terakhir
Pesan terakhir , Bekerja keraslah untuk mencapai suksesmu , karena sukses bukan berarti bergelimangan harta , tapi sukses adalah mencapai apa yang menjadi tujuan hidupmu
Kuliah ga kaya di FTV wahai Bani Adam
Salam gaul
Rizky Jano Ramadhan , Andhika wanna be

Kadang ketika kita milih jurusan karena prospek kerja juga bisa jadi hal yang salah ya, tapi gmn lagi kalo ga ada uang apa apa susah , meskipun kita enjoy dengan apa yang kita pelajari ujung ujungnya kalau kita masih sempit pikirannya bakal susah juga buat kerja diman mana, tapi untungnya dunia ga sesempit itu, meskipun kita cuma 0.03 persen dari seluruh alam semestesta dan 4 persen bintang serta sisanya dark matter sama dark energy , tetep aja buat kerja masih ada peluang ke luar negeri.
BalasHapusSempet juga gue putus asa dan niat buat ga kuliah sama sekali, dan ketika dapet musibah kembali ke Allah lagi jangan malah menjauh dari Nya.
Izin bertanya kak, apakah kaka tau kalo biasanya mahasiswi atau anak perempuan prodi teknik konversi energi itu nanti bekerjanya biasanya sebagai apa ? Dan biasanya kerjanya dimana kak? Apakah prospek kerjanya luas untuk perempuan di prodi konversi energi ini kak? Atau apa kaka punya kenalan atau punya temen mahasiswi prodi konversi energi yang udah kerja gitu kak? Saya pengen nanya lebih dalam dan ingin tau pengalaman mereka kak hehe biar punya pemahaman lebih luas gitu kak. Jujur aja sebenernya saya agak khawatir hehe saya sekarang mahasiswa baru di polban prodi d3 konversi energi kak.
BalasHapusOh iya cerita kaka sangat menginspirasi dan memotivasi saya banget, oh iya kaka kerja dimana kak? Saya pengen tahu pengalaman kaka hehe? Biar saya lebih luas gitu kak kenal mendalam tentang teknik konversi energi. Oh iya kak kalo kaka tipe yang lebih milih organisasi atau lomba untuk tambahan kegiatan selama perkuliahan? Dan kenapa alasannya?
Makasih banyaaak kaak sebelumnyaa!!!, saya mengaharapkan sekalii jawabannya kaaak hehe🤗.
Oh iya kak sebenenya saya nyari nyari akun ig kaka tapi ganemu hehe pengen nanya lebih dalam, nyaman, dan dekat kak hehe